Benny Wenda, Aktivis Papua Merdeka di Seberang Benua

Benny Wenda, Aktivis Papua Merdeka di Seberang Benua

 

Berita Pasti – Benny Wenda, Aktivis Papua Merdeka di Seberang BenuaSejak dahulu dia memang ngaco,” kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan keamanan Wiranto di kantornya, Jakarta, Selasa (3/9).

‘Dia’ yang dimaksud Wiranto adalah pemimpin Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Benny Wenda. Wiranto mengatakan itu saat ditanya soal dugaan keterlibatan Benny dalam sejumlah peristiwa di Papua dan Papua Barat sejak pertengahan Agustus lalu.

Bahkan, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dengan gamblang menuding Benny sebagai aktor dari rentetan aksi protes dan kerusuhan di Papua dan Papua Barat.

“Ya jelas toh. Jelas Benny Wenda itu (yang pimpin). Dia mobilisasi diplomatik (untuk mendukung Papua merdeka), mobilisasi informasi yang missed, yang enggak benar. Itu yang dia lakukan di Australia, di Inggris,” kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (2/9).

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso juga menyebut Liberation Movement for West Papua (ULMWP), organisasi yang dipimpin Benny Wenda, dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) berada di belakang kerusuhan Papua.

Seolah tidak terima dengan tudingan yang mengarah kepadanya, Benny merespon dengan nada tak kalah keras. Benny, yang kini menetap London, Inggris, menyebut justru Wiranto yang memantik konflik horizontal di Bumi Cenderawasih.

“Wiranto gunakan saya. Wiranto adalah penjahat perang yang dicari oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena kejahatan perang. Adalah Wiranto yang membentuk ‘Pasukan Penjaga Merah & Putih’ dan mencoba memicu konflik horizontal antara warga Papua dan warga Indonesia,” kata Benny melalui surat elektronik kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (3/9).

 

Baca Juga : 4 Warga Dilaporkan Meninggal Dunia usai Kerusuhan di Jayapura

 

Benny Wenda sendiri merupakan orang lama dalam gelombang pergerakan masyarakat Papua. Dia lahir pada 17 Agustus 1974 di Lembang Baliem, Papua dan tumbuh dengan menghirup udara sejak kecil bumi cenderawasih.

Dalam laman bennywenda.org disebutkan, Benny menghabiskan masa kecilnya di hutan dataran tinggi Papua bersama keluarganya dan ribuan orang lainnya.

Saat di sekolah, Benny mengaku kerap mendapat perlakuan diskriminatif dari teman-temannya. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan tersendiri.

Saat kuliah, Benny memprakarsai kelompok diskusi untuk siswa Papua di Jayapura. Dalam diskusi itu dibahas bagaimana menjadi orang Papua. Benny juga ingin mengubah pola pikir anak-anak Papua agar mereka merasa bangga menjadi orang Papua di tengah diskriminasi.

Setelah orde baru jatuh, saat kontrol militer pada Papua dinilai mulai kendur dan dialog mulai dibangun, Benny menjadi pemimpin Dewan Musyawarah Masyarakat Koteka (Demmak), Majelis Suku Koteka.

Demmak didirikan oleh para kepala suku dengan tujuan mendapat pengakuan dan perlindungan adat.

Demmak juga mewacanakan kemerdekaan Papua dari Indonesia dan menolak otonomi khusus dan kompromi politik lainnya.

Pada 6 Juni 2002 Benny ditangkap dan ditahan di Jayapura karena dituduh menjadi dalang serangan ke Polsek Abepura dan pembakaran toko pada 7 Desember 2000. Insiden itu disebut menewaskan seorang polisi dan seorang penjaga keamanan.

Benny Wenda, Aktivis Papua Merdeka di Seberang Benua

Kabur dan Menyangkal Bersalah

Divonis 25 tahun, Benny tidak menjalani masa hukumannya hingga selesai. Bahkan baru hitungan bulan, dia melarikan diri dari penjara dan meninggalkan Indonesia.

Itu terjadi pada 27 Oktober 2002. Ia diselundupkan oleh aktivis kemerdekaan Papua yang lain lain dari penjara Abepura ke Papua Nugini.

Terkait vonis 25 tahun penjara, Benny menyangkal dirinya bersalah. Di situs pribadinya ia menyatakan telah didakwa atas kejahatan yang tidak ia lakukan.

Ia menyebut sidang pengadilan yang menjatuhkan vonis terhadap dirinya juga cacat hukum. Polisi bersenjata, lanjut Benny, mengepung ruang sidang selama persidangan berlangsung.

 

 

Baca Juga : Ibu Kota Pindah ke Kalimantan Jadi Momentum Menuju Indonesia Cerdas

 

 

Benny pun menuding jaksa dan hakim meminta suap kepada tim hukum pembela Benny dalam kasus tersebut. Namun, ditolak.

Setelah melarikan diri ke Papua Nugini, Benny kemudian menerima suaka politik dari kelompok LSM Eropa dan pindah ke Inggris di tahun 2003. Hingga kini Benny dan keluarga menetap di Inggris.

Benny masih terus melakukan langkah-langkah untuk mendorong kemerdekaan Papua dari Indonesia meski tinggal di benua berbeda. United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dibentuknya pada 7 Desember 2014 di Vanuatu. Benny ditunjuk sebagai ketua.

Gerakan ini menjadi payung dari tiga gerakan pro kemerdekaan Papua lain, yakni Republik Federal Papua Barat (Federal Republic of West Papua, NRFPB), Koalisi Pembebasan Nasional Papua Barat (West Papua National Coalition for Liberation, WPNCL) dan Parlemen Nasional Papua Barat (National Parliament of West Papua, NPWP).

Bagi pemerintah, Benny Wenda mungkin seorang yang ngaco atau dalang kerusuhan di Papua. Namun bagi sebagian pemuda Papua, Benny adalah pahlawan.

Seorang orator dalam demo Papua di seberang Istana, Dano mengatakan cap separatis yang diberikan Pemerintah Indonesia kepada Benny juga pernah dialami Sukarno.

“Yang diucapkan Indonesia ke Benny Wenda, pernah dicapkan kolonial Belanda ke Sukarno. Dengan cap yang sama mengatakan pejuang itu separatis,” kata Dano dalam aksi ‘Aliansi Mahasiswa Antirasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan Militerisme’ di depan Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/8).

Benny pernah menerima dua penghargaan yakni Nobel Peace Prize dan Freedom of Oxford. Kedua penghargaan tersebut umumnya diberikan kepada tokoh yang dianggap memperjuangkan perdamaian.

Benny Wenda, Aktivis Papua Merdeka di Seberang Benua

Dewan Kota Oxford, Inggris memberi memberikan penghargaan Oxford Freedom of the City Award kepada Benny pada Juli 2019 lalu. Sontak, pemerintah Indonesia melayangkan pernyataan keberatan.

Kementerian Luar Negeri Indonesia mengecam keras pemberian penghargaan dari Dewan Kota Oxford kepada Beny. Benny disebut aktivis separatis yang ingin memisahkan Papua dari Indonesia, karenanya tidak patut diberikan penghargaan.

Pemerintah Indonesia menyatakan Dewan Kota Oxford gagal paham terhadap permasalahan yang ada di Provinsi Papua dan Papua Barat. Indonesia menyatakan akan tetap bersikap tergas terhadap kelompok separatisme.

 

Baca Juga : Wiranto Minta Masyarakat Papua Sabar soal Pemblokiran Akses Internet

 

Rentetan aksi protes kemudian terjadi di Papua dan Papua Barat pada pertengahan Agustus 2019. Itu semua buntut dari peristiwa pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur.

Mereka dikepung oleh warga, ormas dan aparat karena diduga membuang bendera Merah Putih ke selokan air jelang peringatan kemerdekaan Indonesia ke-74.

Pengepungan diwarnai ujaran rasialisme kepada mahasiswa Papua. Videonya beredar di media sosial.

Gelombang aksi protes lalu bermunculan di sejumlah daerah di Papua dan Papua Barat. Tak berhenti kurang lebih selama 3 pekan.

Kepolisian juga terus menambah personel dari daerah lain masuk ke Papua dan Papua Barat. Langkah itu dilakukan karena aksi protes berubah menjadi kerusuhan di beberapa wilayah.

Sejauh ini, polisi telah menetapkan 68 tersangka.

Benny Wenda kembali disebut-sebut berperan gejolak di Bumi Cenderawasih. Namun, Benny menampik telah menciptakan konflik horizontal di Papua dan Papua Barat.

Dia menegaskan tidak ingin ada konflik horizontal. Benny menyatakan dengan tegas bahwa dirinya dan masyarakat Papua menentang sistem yang bernuansa kolonialisme ala pemerintah Indonesia.

“Kami tidak akan membiarkan Indonesia mengubah negara kami (Papua) menjadi ladang pertumpahan darah. Kami akan menempuh jalan menuju kebebasan dalam kedamaian dan cinta,” katanya.

“Perjuangan damai kami bukan untuk membalas dendam, tapi untuk referendum. Ini adalah satu-satunya solusi untuk Papua Barat. #WestPapuaUprising #ReferendumYes #PapuaMerdeka,” tulis Benny.

 

Sumber : www.cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: