Tidak Pernah Ada Yang Menyangka Ide Taksi Online Berbuah 1000 Triliun

Tidak Pernah Ada Yang Menyangka Ide Taksi Online Berbuah 1000 Triliun

BeritaPasti.com – Pernahkah ada yang berpikiran jika mendirikan taksi online yang bisa dipanggil kapan saja dan darimana saja lewat aplikasi akan menghasilkan kekayaan tiada tara? Mungkin untuk kebanyakan orang tidak, tapi hal ini tidak berlaku untuk duet maut Travis Kalanick dan Garett Camp.

Uber selaku pionir transportasi online baru saja melantai di bursa saham New York. Valuasi Uber luar biasa tinggi di USD 75 miliar atau Rp. 1000 triliun.

Kalanick, 8,6% kepemilikan sahamnya di Uber kini bernilai sekitar USD 5,3 miliar setelah perusahaan tersebut melantai di bursa. Angka tersebut setara dengan Rp 76 triliun. Lalu, 6% porsi saham milik Camp kini bernilai sekitar USD 3,7 miliar (Rp 53 triliun). Sedangkan untuk pegawai pertama Uber, Ryan Graves, sekitar 1% sahamnya di Uber berharga di kisaran USD 1,5 miliar, (Rp 21 triliun).

Ide aplikasi penyewaan mobil waktu itu muncul di tahun 2008 saat Kalanick dan Camp sedang menghadiri konferensi teknologi LeWeb di Paris untuk mencari beberapa ide. Ide penyewaan mobil tersebut dianggap kurang menarik, namun tidak ada yang menyangka Camp yang saat itu sangat terobsesi dengan ide tersebut langsung membeli nama domain UberCab.com dan meyakinkan Kalanick kalau usaha mereka ini akan berhasil.

Akhirnya layanan UberCab lahir di San Francisco pada tahun 2010. Yang membuatnya dilirik hingga meraih kesuksesan besar seperti saat in adalah karena aplikasi tersebut mudah digunakan untuk memanggil taksi dan dapat dibayar dengan kartu kredit.

Sepanjang perjalanan Uber banyak sekali kontroversi terutama dari supir dan perusahaan taksi yang menanggapi Uber adalah perusahaan ilegal dan mencuri mata pencaharian mereka. Masalah internal pun hadir dari sosok Kalanick mulai dari pelecehan seks hingga masalah teknologi Uber yang digunakan untuk lolos dari kejaran aparat hukum.

Tapi bagaimanapun, Kalanick dan Camp sudah sukses besar menggoyang industri transportasi. Travis pernah menilai industri taksi terlalu proteksionis. Protes yang menimpa Uber menurutnya bukan disebabkan sopir taksi melainkan perusahaannya.

“Perusahaan taksi memilih tidak berkompetisi sama sekali dan suka begitu begitu saja,” kata dia

Sumber ► inet.detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: